Si “Kucing Manis” dan Jeritan “Papua”

Konteks Kita Today

Di banyak daerah Indonesia; hutan, sungai, dan tanah adat terus mengalami tekanan akibat pola pembangunan yang sering kali lebih berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Ketika alam dirusak, dampaknya tidak berhenti pada pohon yang tumbang atau tanah yang terbuka. Kerusakan lingkungan membawa banyak luka: hilangnya sumber hidup masyarakat, munculnya konflik sosial, krisis ekologi, serta pudarnya budaya dan identitas suatu bangsa. Banjir, longsor, kabut asap, dan perubahan iklim menjadi harga mahal yang akhirnya dibayar bersama. Alam yang rusak perlahan memperlihatkan bahwa manusia tidak dapat hidup terpisah dari ciptaan lainnya.

Saya telah menonton film “Pesta Babi”, karena dengar-dengar gak lulus sensor, jadi penasaran dong. Film documenter berdurasi satu jam 35 menit. Benarkah? Hati pilu? Tarik nafas panjang…..amarah meluap dalam hati…..tenangkan diri dan refleksi!

Refleksi

Film “Pesta Babi” mengajak kita merenungkan kenyataan yang “mungkin” dialami banyak masyarakat kecil: hutan ditebang, tanah adat kehilangan perlindungan, dan suara mereka yang lemah sering kali tidak terdengar di tengah arus pembangunan. Sungguh, saat menontonnya, hati dan kemanusiaan kita sangat terusik. Ada kesedihan yang sulit dilukiskan? Dijelaskan; bagi masyarakat Papua, tanah bukan sekadar benda untuk diperjualbelikan. Tanah adalah ibu kehidupan. Hutan adalah rumah, sekolah, dapur, sejarah, dan tempat mereka mengenal Tuhan. Ketika tanah kehilangan maknanya, yang terluka bukan hanya alam, tetapi juga martabat, budaya, dan masa depan manusia. Sungai tercemar, hutan hilang, leluhur perlahan dilupakan, dan identitas masyarakat ikut terancam memudar.

Refleksi ini bukanlah penolakan terhadap pembangunan. Pembangunan tetap penting demi kesejahteraan masyarakat. Namun pembangunan sejati seharusnya menghormati martabat manusia, mendengarkan suara masyarakat adat, dan menjaga kelestarian ciptaan. Kemajuan tidak semestinya dibangun di atas penderitaan orang kecil atau rusaknya rumah bersama. Sebab pembangunan yang melupakan manusia dan alam pada akhirnya akan kehilangan nilai kemanusiaannya sendiri.

Saya menyebutnya “kucing manis” karena kejahatan sering kali tidak datang dengan wajah menakutkan. Ia hadir dengan wajah lembut, ramah, penuh senyum, dan kata-kata indah. Kucing manis senang mendekat, bermanja, membuat tuannya percaya. Suaranya lembut, langkahnya tenang, tampak tidak berbahaya. Namun diam-diam ia mencuri makanan dan dan menyembunyikan jejaknya (=menutupi kotorannya).


“Kucing manis” menjadi simbol kerakusan yang bekerja secara halus dan perlahan tapi…! Simbol ini mengingatkan kita pada cara ketidakadilan bekerja pada zaman sekarang. Tidak selalu hadir melalui kekerasan terbuka. Kadang ia datang lewat janji kesejahteraan, bahasa pembangunan, dan wajah penuh keramahan. Di depan rakyat tampak peduli, tetapi diam-diam merugikan orang kecil dan merusak rumah bersama.

Perampasan tanah dan rusaknya hutan dalam kisah “Papua” mengingatkan saya pada seekor “kucing manis”. Ia datang perlahan, mengeong lembut, membuat orang merasa aman. Penduduk diajak percaya demi masa depan yang lebih baik. Namun sedikit demi sedikit tanah diambil, hutan dibuka, dan budaya perlahan digeser dari akarnya. “Eongannya” berubah menjadi raungan alat berat di tengah hutan. Pohon tumbang, binatang berhamburan, dan alam kehilangan keseimbangannya. Seperti kucing yang pandai menutupi jejaknya, kerakusan sering kali dibungkus pidato indah dan janji kesejahteraan.

Manusia Dipanggil Menjadi Penjaga, Bukan Perusak

Pertanyaan besar pun muncul: di manakah keadilan berada? Apakah pembangunan harus selalu dibayar dengan air mata orang kecil? Kitab Kejadian mengingatkan bahwa manusia diberi tugas untuk “mengusahakan dan memelihara” bumi, bukan mengeksploitasinya tanpa batas (Kej. 2:15). Alam adalah titipan Tuhan, rumah bersama yang harus dijaga dengan kasih dan tanggung jawab. Ketika manusia merusak alam demi keuntungan pribadi, sebenarnya manusia sedang melukai dirinya sendiri. Sebab manusia dan alam diciptakan dalam relasi yang saling menopang.

Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ menegaskan bahwa “jeritan bumi dan jeritan orang miskin” adalah satu jeritan yang sama: “Today, however, we have to realize that a true ecological approach always becomes a social approach; it must integrate questions of justice in debates on the environment” (Laudato Si’, no. 49). Ketika alam dihancurkan, orang kecil hampir selalu menjadi korban pertama. Mereka kehilangan tanah, sumber makanan, bahkan identitas budaya mereka. Kerusakan alam bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga luka relasi: relasi manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan. (bdk. Yes. 24:4-6; Rom. 8:22).

Kejadian ini juga menegur kita secara pribadi. Jangan-jangan sikap “kucing manis” pun ada dalam diri kita sendiri. Ketika kita memakai kebaikan sebagai topeng demi kepentingan pribadi, ketika kita diam terhadap ketidakadilan, atau ketika kita hidup dalam kerakusan yang merusak alam, kita ikut melukai ciptaan Tuhan. Dosa ekologis tidak selalu tampak besar; kadang ia hadir dalam kebiasaan kecil yang egois dan tidak peduli.

Mungkin kita tidak tinggal di Papua dan tidak menyaksikan langsung penderitaan mereka. Namun kita tetap dipanggil untuk memiliki hati yang mau mendengar jeritan


sesama dan jeritan bumi. Kepedulian dimulai dari kesediaan untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain dan terhadap kerusakan alam yang terjadi di sekitar kita.

Dari Refleksi Menjadi Tindakan.

Refleksi tanpa tindakan hanya akan menjadi wacana. Karena itu, beberapa langkah kecil tetapi nyata dapat kita mulai untuk menjaga kelestarian alam untuk belajar mendengarkan suara masyarakat kecil dan mereka yang tersingkir, memakai dan memilih produk yang lebih ramah lingkungan, mendukung perjuangan damai bagi hak masyarakat adat melalui hukum dan dialog, merawat lingkungan sekitar dengan menanam pohon, mengurangi sampah plastik, dan menghemat air, berani menyuarakan nilai keadilan dan pelestarian ciptaan dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat.

Perubahan besar selalu dimulai dari hati yang mau peduli pada hal-hal kecil. Dunia tidak berubah hanya karena banyak orang berbicara, tetapi karena ada orang-orang yang memilih bertindak dengan kasih dan tanggung jawab. Refleksi ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan atau menghakimi pihak tertentu, melainkan mengajak kita semua untuk bercermin. Sebab kerusakan bumi sering kali lahir bukan hanya dari keputusan besar, tetapi juga dari hati manusia yang perlahan kehilangan rasa cukup, kehilangan kepedulian, dan lupa bahwa alam adalah anugerah Tuhan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Akhirnya, semoga film “Pesta Babi” tidak berhenti sebagai tontonan yang menyedihkan. Biarlah film ini menjadi panggilan bagi kita semua untuk menjaga bumi, menghargai martabat setiap manusia, dan membangun Indonesia yang sungguh adil dan beradab. Semoga kita bukan menjadi “kucing manis” yang pandai menyembunyikan kerakusan, melainkan menjadi manusia yang menghadirkan kasih, keadilan, dan harapan bagi sesama serta seluruh ciptaan Tuhan. Bumi bukan warisan yang bebas kita habiskan, melainkan rumah bersama yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Jika bumi menangis dan orang kecil menjerit, kita tidak boleh tinggal diam.

Dan andaikata kisah dalam film ini hanyalah sebuah simbol atau gambaran yang tidak sepenuhnya nyata, refleksi ini tetap penting sebagai peringatan agar manusia berjaga-jaga terhadap keserakahan dan semakin bertanggung jawab memelihara bumi. Namun jika jeritan itu sungguh nyata terjadi di Papua dan di banyak tempat lain, maka kita dipanggil bukan hanya untuk merasa sedih, tetapi untuk bertobat lebih dalam, hidup lebih sederhana, lebih adil, dan lebih serius merawat ciptaan Tuhan. Sebab bumi yang rusak bukan hanya kehilangan alamnya, tetapi juga kehilangan kasih manusia terhadap sesama dan terhadap Sang Pencipta. Sebab pada akhirnya, bumi tidak hanya membutuhkan manusia yang pandai membangun, tetapi manusia yang tahu mengasihi


dan menjaga kehidupan. Semoga Tuhan menolong kita untuk tetap memiliki hati yang lembut: hati yang mampu mendengar jeritan bumi, jeritan orang kecil, dan jeritan hati nurani kita sendiri. Amin. (by Rob.Imma SFD)



Sr. M. Immaculata Silalahi SFD

Sr. Roberta Ginting SFD

COMMENTS

Nama

Artikel,37,berita,12,carousel,11,Dies Natalis 215 Tahun,1,Ekspo Panggilan,1,Feature,7,galeri,5,Indahnya Persaudaraan,2,Kalimantan Barat,1,Kontak kami,1,pastoral,5,pendidikan,7,pendiri,1,Sosial,1,Tulisan Populer,4,Tulisan terbaru,4,ujud kerasulan doa SFD,1,utama,20,Visitasi di Banjarmasin,1,Week End di Pati,4,
ltr
item
Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina (SFD) | Indonesia
Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina (SFD) | Indonesia
https://www.kongregasi-sfd.org/2026/05/si-kucing-manis-dan-jeritan-papua.html
https://www.kongregasi-sfd.org/
https://www.kongregasi-sfd.org/
https://www.kongregasi-sfd.org/2026/05/si-kucing-manis-dan-jeritan-papua.html
true
2806446007423684193
UTF-8
Muat Semua Tulisan tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Oleh Home PAGES POSTS Lihat Semua Direkomendasikan LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tuisan yang anda cari tidak ditemukan Kembali Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy